“Teori kami
memang jauh dari dugaan,” aku Weiler, yang merupakan profesor fisika di
Universitas Vanderbilt, “namun ia tidak melanggar satupun hukum fisika atau
kendala eksperimental.”
Salah satu
tujuan utama LHC adalah menemukan boson Higgs: partikel
yang diajukan para fisikawan untuk menjelaskan mengapa partikel seperti proton,
neutron dan elektron memiliki massa. Bila LHC berhasil memproduksi boson Higgs,
sebagian ilmuan meramalkan bahwa ia akan menciptakan partikel kedua, yang
disebut singlet Higgs, di saat yang bersamaan.
Menurut teori
Weiler dan Ho, singlet ini harusnya memiliki kemampuan melompat ke dimensi
kelima dimana mereka dapat bergerak maju atau mundur dalam waktu dan kembali
muncul di masa depan atau masa lalu.
Ilustrasi
teori perjalanan waktu singlet. Saat sepasang proton bertumbukan dalam LHC,
ledakan yang dihasilkan dapat menciptakan partikel tipe khusus, yang disebut
singlet Higgs, yang mampu berjalan maju dan mundur dalam waktu. Ia melakukan
itu dengan meninggalkan ruang tiga dimensi biasa untuk berjalan dalam dimensi
ekstra. (Credit: Jenni Ohnstad / Vanderbilt)
“Salah satu
hal menarik mengenai pendekatan mesin waktu ini adalah ia menghindari semua
paradoks besar,” kata Weiler. “Karena perjalanan waktu terbatas pada partikel
khusus ini, tidaklah mungkin bagi manusia untuk berjalan mundur ke masa lalu
dan membunuh orang tuanya sebelum ia sendiri lahir, misalnya. Walau begitu,
bila ilmuan dapat mengendalikan produksi singlet Higgs, mereka dapat mengirim
pesan ke masa lalu atau ke masa depan.”
Melepaskan
tempelan “brane“
Ujian teori
peneliti ini adalah apakah para fisikawan yang memonitor LHC mulai melihat
partikel singlet Higgs dan produk peluruhannya muncul secara spontan. Bila
mereka memang mengamati demikian, Weiler dan Ho percaya kalau mereka telah
diproduksi oleh partikel-partikel yang mundur dalam waktu untuk muncul sebelum
tumbukan memproduksinya.
Teori
Weiler dan Ho berdasarkan pada teori
M, sebuah “teori segalanya.” Sejumlah kecil fisikawan teoritis telah
mengembangkan teori M hingga titik dimana ia dapat mengakomodasi sifat semua
gaya dan partikel sub atom yang diketahui, termasuk gravitasi, namun ia
memerlukan 10 atau 11 dimensi bukannya empat yang familiar dengan kita. Hal ini
membawa pada saran kalau alam semesta kita mungkin seperti selaput empat
dimensi atau “brane” yang mengambang dalam ruang waktu multi dimensi yang
disebut “bulk”. Menurut pandangan ini, balok pembangun dasar alam semesta kita
terjebak secara permanen dalam brane ini dan karenanya tidak dapat bergerak ke
dimensi lain. Walau begitu, ada sejumlah pengecualian. Sebagian berpendapat
kalau gravitasi, misalnya, lebih lemah dari gaya dasar lainnya karena ia
berdifusi ke dimensi lain. Pengecualian lainnya adalah singlet Higgs yang
diajukan itu, yang merespon gravitasi namun tidak pada gaya dasar lainnya.
Jawabannya ada
pada neutrino?
Weiler
mulai mempelajari perjalanan waktu enam tahun lalu untuk menjelaskan anomali
yang teramati pada beberapa eksperimen dengan neutrino. Neutrino dinamakan
partikel hantu karena mereka langka sekali
bereaksi dengan materi biasa: triliunan neutrino menghantam tubuh kita tiap
detik, namun kita tidak menyadarinya karena mereka menembus tanpa mempengaruhi
kita. Weiler dan koleganya Heinrich Päs dan Sandip Pakvasa di Universitas
Hawaii datang dengan penjelasan anomali ini berdasarkan keberadaan partikel
hipotesis yang disebut neutrino steril. Dalam teori, neutrino steril bahkan
lebih sulit dideteksi daripada neutrino biasa karena mereka hanya berinteraksi
dengan gaya gravitasi. Sebagai hasilnya, neutrino steril adalah partikel lain
yang tidak menempel ke brane dan karenanya mestinya mampu bergerak melewati
dimensi ekstra. Weiler, Päs dan Pakvasa mengajukan kalau neutrino steril
bergerak lebih cepat dari cahaya dengan mengambil jalan pintas lewat dimensi
ekstra. Menurut teori relativitas umum Einstein, ada kondisi khusus dimana
bergerak lebih cepat dari kecepatan cahaya itu setara dengan bergerak mundur
dalam waktu. Hal ini membawa para fisikawan ke dunia spekulatif perjalanan
waktu.
Idenya
mempengaruhi fiksi ilmiah
Tahun 2007,
para peneliti, bersama rekanan pasca sarjana Vanderbilt, James Dent,
mengeluarkan makalah berjudul “Neutrino Time Travel (Perjalanan waktu
neutrino)” yang membangkitkan sejumlah sensasi.
Gagasan mereka
mengalir ke dua novel fiksi ilmiah. Final
Theory karya Mark Alpert,
yang dinyatakan oleh New York
Times sebagai versi fisika
dari The Da Vinci Code,”
yang berdasarkan pada ide para ilmuan mengenai neutrino yang mengambil jalan
singkat melewati dimensi ekstra. Novel karya Joe Haldeman The Accidental Time Machine adalah mengenai mahasiswa pasca
sarjana MIT yang melakukan perjalanan waktu dan memuat catatan pengarang yang
menjelaskan hubungan novel ini dengan tipe mesin waktu yang dijelaskan oleh
Dent, Päs, Pakvasa dan Weiler.
Ho adalah
rekan pasca sarjana yang bekerja dengan Weiler. Teori mereka dijelaskan dalam
sebuah makalah yang diterbitkan tanggal 7 maret di situs penelitian arXiv.org.
Sumber berita
Referensi
jurnal :
Ho, C.M.,
Weiler, T.J. Causality-Violating Higgs Singlets at the LHC. arXiv.org, 2011; [link]
sumber :http://www.faktailmiah.com/2011/03/18/lhc-bisa-menjadi-mesin-waktu-pertama-di-dunia.html







0 komentar:
Posting Komentar